Idhul Adha Moment Untuk Menyemai Kedamaian

Moderni.co, Malang – Dinamika sosial masyarakat Indonesia akhir-akhir ini semakin menegangkan. Terbelahnya masyarakat pasca pilpres dan banyakanya kasus-kasus intoleran telah mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia yang dikenal sebagai negara majemuk, multikultural dan plural akan keberagaman mulai dari suku, ras, agama, dan bahasa kini tercoreng karena beberapa pihak yang saling membenci dan mencela. Sungguh, sangat memprihatinkan sekali melihat realita kehidupan masyarakat saat ini.

Indonesia yang kini menjalankan sistem demokrasi namun soelah-olah hanya sebagai wacana dan teoritisasi. Dalam praktik sosial masih banyak masyarakat yang sensitif akan perbedaan pendapat dan pemahaman. Tradisi untuk saling menghargai dan menghormati kini tak lagi tumbuh, semuanya serba saling membenarkan. Inilah fenomena yang selalu menghiasi atmosfer kehidupan dalam negeri. Keberagaman tak lagi menyejukan namun menimbulkan kekerasan dan ketidakadilan. Gejala Intoleran dan sektarianisme di Indonesia kini semakin menguat.

Beberapa waktu kebelakang tepatnya pada tahun 2016 Indonesia telah di guncangkan oleh kasus penistaan agama di mana pada saat itu menjadi perhatian utama masyarakat. Bergeser tahun berikutnya kemudian banyak pembunuhan terhadap ulama-ulama, penghancuran rumah ibadah, dan yang tak kalah menghebohkan ketika pilpres 2019 dimana masyarakat saling silat lidah mencela saudaranya sendiri dengan ujaran kebencian seperti keceboong dan kampret. Dekadensi moral bangsa semakin tak terkendali, Indonesia seperti kehilangan kompas menuju arah bangsa yang beradab.

   Kini permasalahan bangsa semakin kompleks, kesadaran dimasyarakat belum sepenuhnya terbangun. Bangsa Indonesia yang memiliki ideologi kokoh dalam menyikapi pluralisme namun  hal itu hanya sebatas teori dan filosofi di atas kertas yang tak tertransformasikan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Inilah permasalahan yang harus segera diselesaikan secara bersama-sama, budaya hidup rukun dan damai hendaknya menjadi prilaku yang melekat pada setiap jiwa.

Kedamaian Sebagai Prinsip

            “Bersaudara dalam perbedaan, berbeda dalam persaudaraan” itulah sepenggal kalimat yang diucapkan oleh guru bangsa yaitu Buya Syafi’i Ma’arif. Jika dipahamai dengan baik tentu kalimat tersebut memiliki makna yang dalam. Walaupun negeri ini diambang perpecahan namun rasa pesimis hendaknya selalu dikesampingkan. Bangsa ini masih bisa diselamatkan dari perpecahan manakala nilai-nilai luhur seperti kedamaian menjadi prinsip hidup dalam bermasyarakat.

            Banyak diantaranya para tokoh pendiri bangsa yang memberikan tauladan yang baik dan menanamkan nilai-nilai luhur. Mereka bercita-cita menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa maju dan berkeadaban utama. Tentu bukan hal yang mudah, namun apabila warga bangsa atau masyarakat mau mengamalkannya pasti dapat terwujud. Ini merupakan tantangan besar khususnya umat Islam di Indonesia mengingat umat Islam sebagai mayoritas. Islam yang merupakan agama peace atau agama yang mengajarkan nilai-nilai kedamaian harus menjadi aktor utama dalam membangun masyarakat yang berkeadaban.

            Dalam kenyataan memang kadang sulit untuk melakukan terobosan jalan damai antara mereka yang konflik. Adanya faktor kepentingan “cross-cutting of interest” dan sikap-sikap “kepala batu” menjadi penghalang untuk menempuh kedamaian. Padahal jika mau berdialog dan bermusyawarah dengan akal yang sehat dan hati yang jernih tentu tidak akan cengeng ketika menghadapi perbedaan.

            Agama-agama di Indonesia terutama agama Islam khususnya mempunyai tanggung jawab sosial untuk menanamkan nilai-nilai kerukunan dan kedamaian. Setiap agama pasti mempumyai cita-cita yang sangat tinggi yakni mengajarkan kebaikan atau akhlak yang luhur. Indonesia yang mayoritas masyarakatnya beragama namun belum sejalan dengan apa yang menjadi cita-cita agama.

            Agama tanpa tanggung jawab sosial sama saja dengn pemujaan (cult) belaka. Tidak perlu orang beragama jika tanpa dibarengi dengan tanggung jawab sosial. Sebab, agama bukanlah pelarian semu dan dalih mencari ketrentaman spiritual semata. Ibadah-ibadah “ritual” dalam agama merupakan cara intropeksi diri. Apakah ini memancarkan kepedulian manusiawi dalam kehidupan luas yang multidimensi atau tidak, apakah pola keberagamaan kita telah menimbulkan tanggung jawab sosial apa belum. (Ahmad Najib Burhani : 2019).

Menyemai Kedamaian

            ‘Idhul Adha atau ‘Idhul Qurban, artinya Hari Raya Penyembelihan. Makna “adha” dikaitkan dengan “udhhiyah” atau “dhahiyyah” yakni “hewan sembelihan”. Secara lahir yang disembelih itu seekor hewan kurban sesuai syariat yang ditutunkan, namun maknanya ialah menyembelih hawa nafsu dan segala godaan syaitan yang bermuara pada kepasrahan dan pengabdian diri kepada Allah Yang Maha Rahman dan Rahim. Demikian halnya, kata “qurban” artinya “sesuatu yang dekat atau mendekatkan”, yakni dekat dan mendekatkan diri kepada Allah, sehingga setiap berkurban semakin taat hidupnya kepada Allah, yang diwujudkan dengan segala ibadah dan amal shalih atasnama-Nya. (Haidar Nashir : 2019)

            Di hari yang mulia ini umat Islam telah melakukan rangkaian ritual ibadah yang mengingatkan kembali dengan sejarah Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan putranya Ismail. Pengorbanan yang sangat luar biasa dilakukan demi menjadi orang-orang yang bertaqwa. Kepasrahanya kepada Allah mencerminkan bahwa dirinya termasuk orang-orang yang beriman. ketiganya telah membuktikan keimanan tingkat tertinggi dan berjiwa ihsan.

            Bersamaan dengan Idhul Adha saat ini sebagian umat muslim diseluruh penjuru dunia berbondong-bondong menuju Baitullah (Rumah Allah) Ka’bah untuk melaksanakan ibadah haji. Berbagai rangkaian telah dilakukannya mulai dari sa’i, tawaf, hingga mabit di muzdalifa. Setiap rangkaian yang dilaksanakan ada pemaknaan yang mendalam jika mau menghayatinya dengan sungguh-sungguh.

            Seorang tokoh intelektual asal Iran, Ali Syari’ati telah menjelaskan seluruh makna rukun demi rukun ibadah haji. Dia mengibaratkan ketika manusia mengelilingi ka’bah semuanya menjadi sama. Tidak ada identitas personal, tidak membedakan mana yang berkulit hitam dan yang berkulit putih, tidak membedaka dari belahan dunia mana mereka berasal, dan yang terlihat hanyalah sebuah rumpun totalitas dan universalitas umat manusia. Inilah salah satu moment di mana umat manusia menjadi satu kesatuan. Tidak ada perpecahan dan merupakan suatu moment yang harmonis, sejuk dan damai apabila hal ini dapat teraplikasikan didalam kehidupan berbangsa dan bernegara

Pasca Idhul Adha dan berkurban setiap muslim secara individu dan kolektif niscaya menjadi suri teladan dalam merekat persaudaraan, saling membantu, tolong menolong, kebersamaan, dan keutuhan hidup bersama sesama umat manusia di manapun berada. Perbedaan agama, golongan, suku bangsa, kedaerahan, pilihan politik, dan keragaman latarbelakang lainnya jangan merusak jalinan solidaritas sosial yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim. Inilah bentuk uswah hasanah Muslim dan umat Islam hasil dari Idhul Adha dan ibadah kurban. (Haidar Nashir : 2019).

Oleh : Aldi Bintang Hanafiah (Mahasiswa FAI UMM Jurusan Ekonomi Syariah)

Ayo, Sebarkan Kebaikan..!

Related posts

Leave a Comment