Pandeglang Bangkit dari Ketertinggalan

(Momentum HUT Pandeglang ke-145 Tahun)

Modernis.co, Banten – Tiga bulan sudah, bencana alam tsunami menimpa Pandeglang pada penghujung tahun lalu dan 145 tahun Pandeglang memasuki usianya, banyak pekerjaan rumah yang belum dituntaskan. Tagline Pandeglang Bangkit dan Selat Sunda Aman mengudara diusianya yang ke 145. Sebelum kesana lebih lanjut, kita patut bertanya mengapa 1 April diperingati sebagai hari jadi Pandeglang, apa alasan?

Mengapa 1 April?

Penulis menghimpun data dari situs Pemkab Pandeglang bahwa di Pandeglang sejak tanggal 1 April 1874 telah ada pemerintahan. Lebih jelas lagi dalam Ordonansi 1887 No. 224 tentang batas-batas wilayah Keresidenan Banten, termasuk batas-batas Kabupaten Pandeglang. Dalam tahun 1925 dengan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 14 Agustus 1925 No. IX maka jelas Kabupaten telah berdiri sendiri tidak di bawah penguasaan Keresidenan Banten.

Atas dasar dan fakta-fakta tersebut dapat diambil beberapa alternatif :

1. Pada tahun 1828 : Pandeglang sudah merupakan Pusat Pemerintahan Distrik;

2. Pada tahun 1874 : Pandeglang merupakan Kabupaten;

3. Pada tahun 1882 : Pandeglang merupakan Kabupaten dan Distrik Kewedanaan;

4. Pada tahun 1925 : Kabupaten Pandeglang telah berdiri sendiri.

Dari keempat kesimpulan itu atas kesepakatan bersama kita telah menentukan 1 April 1874 sebagai Hari Jadi Kota Kabupaten Pandeglang.

145 Tahun, Usia Tua dengan Semangat Muda

1 April 2019, Pandeglang memasuki usianya yang ke 145 tahun, Pemerintah Kabupaten Pandeglang mengusung tema Pandeglang Bangkit Selat Sunda Aman sebagai bentuk penegasan bahwa Pandeglang sudah bangkit dari musibah akhir tahun lalu dan aman untuk dikunjungi wisatawan.

Senada dengan Pemerintah Kabupaten Pandeglang, Arief Yahya selaku Menteri Pariwisata bahwa Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sudah membentuk tim Selat Sunda Aman yang diketuai Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar Guntur Sakti yang juga sebagai Ketua Tim Manajemen Krisis Kemenpar untuk melakukan pemantauan serta memastikan agar seluruh program pemulihan sektor pariwisata Selat Sunda berjalan sesuai rencana, baik dari unsur Sumber Daya Manusia (SDM), pemasaran, maupun destinasi terdampak.

Selain itu beberapa prestasi berhasil diraih oleh Pemkab Pandeglang diantaranya: Masuk tiga besar evaluasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), Capaian predikat BB pada Sistem Akuntabilitas Kerja Instansi Pemerintah (SAKIP), Penghargaan Peduli HAM dari Kemenkumham, rencana reaktifasi jalur KA Rangkas-Labuan, dan beberapa prestasi dan program lainnya. Ikhtiar dan semangat para pemangku kebijakan patut untuk kita apresiasi. 145 tahun, usia tua dengan semangat muda.

Maksimalisasi Potensi Daerah

Pandeglang merupakan daerah yang potensi alam dan potensi budayanya cukup kaya untuk dieksplorasi. Keindahan pantai dan pulau-pulau kecil yang eksotis, kearifan lokalitas budaya, kawasan geopark yang merupakan habitat hewan langka (Rhinoceros Sondaicus) di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), destinasi bangunan-bangunan tua yang memiliki nilai historis, dan segala hal lain yang bisa menjadi deposito bagi kas daerah.

Keseriusan otoritas terkait dalam upaya maksimalisasi potensi daerah belum sesuai harapan, acapkali keseriusan tersebut hanya sebatas pembentukan dan pemenuhan yang sifatnya formalistic saja tapi bias substansinya. Kabupaten Pandeglang sebagai wilayah terbesar ke dua di Provinsi Banten belum optimal dalam langkah pemanfaatan sumber daya baik manusia dan alamnya. Sehingga tak ayal wilayah yang kaya ini disebut wilayah miskin, sungguh sematan yang kontradiktif.

Maksimalisasi potensi daerah adalah hal yang sifatnya urgen. Perlunya sinergitas antara yang memimpin dan dipimpin dalam hal ini, sebab sangat disayangkan potensi daerah yang cukup kaya tidak dimanfaatkan untuk pembangunan baik infra maupun supra struktur di Pandeglang.

Hari Jadi Sebagai Momentum Kebangkitan dari Segala Ketertinggalan

145 tahun Pandeglang, seharusnya atau bisa dikata matang untuk mengelola tatanan pemerintahan. 145 tahun Pandeglang, masih dibayang-bayangi oleh ketertinggalan. Banyak pekerjaan rumah yang belum dituntaskan. Masuknya Pandeglang dalam daftar daerah kategori miskin, buruknya infrastruktur yang berdampak pada segala sendi, sarang kejahatan korupsi pada tatanan birokrasi, sempitnya lapangan kerja, dan segala permasalahan kompleks lainnya.

Hari jadi Pandeglang bisa menjadi refleksi bagi seluruh manusianya baik pemerintahan maupun nonpemerintahan, Pandeglang perlu untuk bermetafora diusia tuanya, sesuai dengan tagline Pandeglang Boga Urang maka ruh daripada kalimat-kalimatnya dapat termanifestasikan, sehingga hari jadi bukan hanya perayaan simbolik atau formalistic semata tapi hari jadi sebagai momentum kebangkitan dari segala ketertinggalan.

Oleh : Faiz Romzi Ahmad (Aktivis Himpunan Mahasiswa Mathlaul Anwar ‘HIMMA’ UIN Banten)

Ayo, Sebarkan Kebaikan..!

Related posts

Leave a Comment