Permata yang Hilang

Modernis.co, Malang — Kaum wanita sering diidentikkan dengan kecantikkan dan keindahan, sehingga mampu menarik hati seorang laki-laki. Rasa cinta memang seyogyanya harus ada dalam diri manusia yang telah di anugerahi nafsu oleh Sang Pencipta, tapi kadang kala anugerah yang sangat besar berupa nafsu tersebut sering disalahgunakan (abuse) dan mengarah kepada kemaksiatan. Tidak bisa kita pungkiri bahwa nafsu seks yang telah dikaruniakan oleh Allah Swt kepada manusia bukan untuk dihilangkan atau dimatikan, melainkan untuk dikendalikan dan disalurkan sesuai dengan ketetapan-Nya.

Islam khususnya sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat kaum wanita terbukti dengan tragedi yang cukup mencengangkan pada masa jahiliyah, sehingga datang seorang nabi yang mampu mendobrak pundi-pundi kejumudan tersebut yaitu Nabi Muhammad Saw. Ketika kita melirik masyarakat pra Islam mereka memandang kaum wanita sebagai sesuatu barang yang tidak ada nilainya sama sekali.

Di sisi lain, apabila nahfu seks tadi dibiarkan liar dan tidak dikendalikan maka mala petaka akan menghantui kehidupan serta seseorang akan terjerumus kedalam jurang kehinaan dan kehancuran yang nyata, sebab potensi nafsu seks ini akan mendorong manusia melakukan hal yang bejat dan keji (kemaksiatan). Sehingga wanita  diperlakukan tidak sesuai dengan peri kemanusian (diperkosa, disiksa, dihina dan dicampakkan).

Di dalam diri manusia terdapat dua anasir penting, yaitu kemerdekaan dalam berfikir (sifat kemanusiaan)  dan hasrat ingin memberontak (sifat kebinatangan). Apabila seseorang telah kehilangan fungsi akalnya untuk memikirkan sesuatu maka sifat kebinatangannya akan muncul secara spontan, malu tidak lagi menjadi persoalan. Pribadinya telah dikendalikan oleh hawa nafsu maka akalnya tidak bisa berpikir rasional lagi, karena apa yang dilakukan bukan atas dasar pertimbangan akal melainkan karena dorongan nafsu.

Tepatlah ketika seorang penyair yang bernama Ibnu Duraid Al-Azdi,  mengataka bahwa :

“Bencana akal itu adalah nafsu, maka barang siapa yang dapat menguasai nafsunya maka selamatlah akalnya”.

Di dalam kacamata islam, kaum wanita adalah sosok yang harus di junjung tinggi harkat dan martabatnya. Kendati demikian maka seyogyanya kaum wanita harus mengindahkan akan hal ini, bukan malah mencederai predikat yang telah diberikan oleh Islam kepadanya. Kenyataan yang terjadi bahwa tidak sedikit dari wanita yang menyeleweng dari kodratnya tersebut, pelacuran, prostitusi, demi materi yang hanya bersifat sementara, mereka rela menjual harga dirinya.

Terlepas daripada itu adalah keinginanya pribadi atau kekangan dari kerasnya kehidupan, dengan kata lain “tak kerja tak makan” sehingga segala macam cara dihalalkan, yang hak dan batil dicampuradukkan untuk menggapai keinginan nafsu tersebut. Sebenarnya itu adalah ujian untuk menambah ketaatan kita kepada Allah Swt bagi kaum-kaum yang berpikir.

Sekarang ini kita sedang di bumingkan dengan peristiwa mencengangkan, sosok yang cukup familiar di layar media. Seorang figur dengan inisial VA telah terlibat dalam kasus prostitusi online atas dasar iming-iming materi berupa uang yang cukup besar nominalnya, sehingga kehormatan dan harga diri telah dikesampingkan oleh materi yang fana. Peristiwa ini adalah salah satu dari banyaknya contoh kongkrit yang terjadi di muka bumi ini. Entah siapa yang akan kita salahkan, apakah pribadi mereka ataukan kurang mengikatnya UU yang mengatur tentang hal demikian atau bahkan tidak heran dengan alibi nakalnya ada yang menyalahkan Tuhan.

Rasulullah Saw bersabda :

“Wanita adalah tiang suatu negara, apabila wanitanya baik maka negara  akan baikdan apabila wanitanya rusakan maka negarapun akan ikut rusak”(HR. Bukhari)

Dengan demikian maka jelaslah bahwa peradaban suatu negara akan terhambat ketika kaum wanitanya rusak, dan begitupun sebaliknya alur gerakan suatu negara akan baik ketika wanitanya baik. Oleh karena itu belajar dari pengalaman baik sosial maupun spiritual itu sangat penting dijadikan sebagai tameng kita khusnya kaum wanita dalam memawas diri dari kemaksiatan.

Allah Swt berfirman : dalam QS. Al-Hasyr 59: Ayat 18.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ  ۚ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan”.

Semua kita adalah makhluk yang tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa, dan sebaik-baiknya orang yang beriman adalah ketika dia melakukan dosa maka sesegera mungkin dia bertaubat kepada tuhanya dengan penuh keihlasan dan rasa bersalah atas perbuatan tercela yang dia lakukan dan menutupnya dengan perbuatan terpuji. Marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan dengan takwa demi bekal kita di hari esok (kiamat).

Oleh : Andy Apriansah (Aktivis IMM Tamaddun Universitas Muhammadiyah Malang)



Ayo, Sebarkan Kebaikan..!

Related posts

Leave a Comment