Putri Sakura

Dayang- Dayang Istana, prajurit- prajurit kerajaan. Seperti itulah pemandangan pertama setiap kali Sakura membuka mata disaat mentari mulai menyingsing.

“Putri, persiapan mandi sudah siap!” Dayang istana memberi hormat, Sakura mengangguk halus, memberi isyarat agar Dayang Avilia segera beranjak meninggalkannya.

Jika orang lain memandang, cukuplah mereka meyakini jika hidupnya berada dalam kebahagiaan. Tak jarang Sakura mendengar jika banyak sekali wanita yang ingin sepertinya, menjadi Putri dari seorang Raja di negara City, satu satunya kerajaan yang masih bertahan di era modernisasi ini.

Sakura mendesah, ia bosan dengan semua ini, ia bosan dengan segala peraturan Istana yang seolah mengekangnya. Ia ingin seperti elang yang terbang bebas di cakrawala, menjelajahi berbagai tempat sesuka hatinya. Namun bukan berarti bebas dalam paham liberalis.

Sebagai seorang remaja, pastilah ia ingin merasakan laiknya dara seumurannya. Berteman, bersekolah, dan bermain menikmati hidup. Bukan hanya mendekam disatu tempat dibalik dinding tinggi Istana berteman Dayang- Dayang dan segala macam urusan kerajaan. Sahabat, ya. Ia butuh sahabat, sahabat penghapus kesepian hati yang lama mendekam di kedalaman jiwanya.

“Putri, Baginda memanggil Tuan di Istana Bulan,” Sakura mempercepat merias wajahnya.
“Untuk kali ini, izinkan aku menghadap Raja sendiri tanpa kawalan sedikitpun!”
“Mohon maaf Putri,”
“Untuk kali ini saja, aku mohon. Bukankah Istana Bulan masih termasuk wilayah kerajaan City?”

“Benar Putri, namun ini sudah menjadi petuah Raja dan Ratu untuk mengawal Tuan Putri kemanapun Tuan Putri pergi,” sekali lagi Sakura mendesah berat, menuruti Dayang Avilia dengan perasaan dongkol. Pintu kamarnya terbuka, sepuluh Dayang menunduk hormat kepadanya, mengikuti langkahnya menuju Istana Bulan.

Sakura meluaskan pandangan, terkadang dia sempat heran dengan kenyataan ini. Bagaimana bisa kerajaan City masih bisa bertahan berabad- abad tahun lamanya sampai saat ini dengan masih berpegang teguh pada kebudayaan aslinya. Kerajaan City sangat tertutup, tak pernah sekalipun mengizinkan wartawan meliput apapun kejadian didalamnya.

“Sakura datang Raja,” Raja menutup bukunya, menyambut kedatangan Putri dengan senyuman bijak di bibirnya. Menyerahkan tiga tumpukan buku politik kerajaan, seketika Sakura paham jika ia akan berkutut beberapa hari untuk menuntaskan tiga buku itu.

“Raja,”
“Ada apa Putri?”
“Ada satu hal yang ingin Putri sampaikan kepada Baginda Raja,”
“Katakanlah!”
“Raja, Putri ingin belajar ke negara lain, ingin merasakan suasana baru, ingin berteman sebagaimana layaknya gadis seumuran Putri,”
“Tidak Putri, kau harus tetap belajar di Istana ini bersama guru- guru pribadimu. Kau adalah satu- satunya penerus tahta kerajaan, kau harus belajar semua buku tentang politik- politik kerajaan,” Putri bernapas tertahan.

“Namun Raja, keinginan Putri belajar di negara lain bukanlah tanpa tujuan. Putri ingin mengambil hal yang baik di negara lain untuk Putri tanamkan di negara kita,”
“Tidak Putri, sekali lagi tidak!” Sakura terdiam, ia tak tau harus bagaimana lagi untuk meyakinkan Raja. Ia menggeleng putus asa, memberi hormat pada Raja dan lantas pergi.
Tuhan, bantu aku menghapus kesepian ini, lirihnya pelan.

baca juga cerpen lainnya : Kesepian dan Harapan

Meski berkali- kali Raja menolak mentah iradahnya, Sakura tak pernah goyah, ia tetap berpegang teguh pada keinginannya. Hari ini Sakura memutuskan untuk merealisasikan satu pikiran yang tersirat, ia menyiapkan segala sesuatu secukupnya.

Dilihatnya samping jendela kamar, sepi. Biasanya khusus hari Sabtu seperti ini penjagaan kerajaan tak seketat biasanya. Pelan ia keluar dari jendela kamar, mengendap- ngendap menuju gerbang belakang Istana. Penampilannya yang kontras berbeda dari biasanya membuat sebagian prajurit kerajaan yang bertugas nyaris tak sedikitpun mengenalnya.

“Sekalipun aku tak pernah keluar Istana, bagaimana aku bisa mengetahui rute perjalananku?” Sakura menautkan alis.

“Owh,” satu handphone dikeluarkannya, ia mulai mencari negara- negara yang sekiranya akan menjadi satu tempat persinggahan. Flower, negara Flower. Sakura ingin menuju kesana, negara yang terkenal dengan segala keindahannya, yang terletak tak jauh dari negara City. Ia bergegas menghentikan satu bus, mulai menikmati perjalanan barunya.

Bus lengang, hanya ada dirinya dan dua lelaki setengah baya yang sudah terlelap dalam buaian mimpi indahnya. Sakura mengampil tempat duduk di depan samping jendela kaca, ia ingin menikmati perjalanan tanpa meninggalkan satu moment sedikitpun.

Sampailah ia setelah empat jam lamanya duduk di jok bangku bus, ia terkesiap, inilah keramaian yang ingin ia saksikan. Keramaian yang berbeda dari Istana kerajaan tempatnya tinggal. Sakura langsung melangkahkan kaki menuju universitas Flower, ia tak punya satupun ijazah pendidikan, ia akan menerangkan jika dirinya adalah anak homeschooling.

Sakura tak tau mengapa pihak universitas begitu mudahnya menerimanya sebagai mahasiswi. Hari ini, hari pertama ia masuk kuliah. Tentunya ia akan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Tak pernah sebelumnya ia menyaksikan wanita berteriak dan tertawa dengan begitu kerasnya. Saat Sakura berkata jika ia berasal dari negara City, sontak seluruh mahasiswa mengerubunginya.

“Benarkah? Jarang sekali ada penduduk negara City yang belajar di tempat lain,” Sakura tersenyum, jujur ia susah menyesuaikan diri.

“Jadi pastilah kamu tau Putri Raja, dengar- dengar dia cantik. Secantik apasih dia? Pasti hidupnya enak, apa- apa dilayani!” kata gadis berkulit sawo matang yang segera disambut anggukan mantap seluruh kepala di kelas itu.

“Nggak juga sih menurutku, lebih enak jadi seperti kalian. Bebas bisa berteman dengan siapa saja, bebas mau berkelana ke tempat mana saja yang ingin kalian singgahi,” belum sempat Sakura menuntaskan kalimatnya, dosen berkacamata minus tebal masuk.

“Aku penasaran dengan kelanjutan ceritamu. Setelah kuliah usai, bolehkan aku mendengar lanjutannya?” Sakura mengangguk, tersenyum ramah pada pria berperawakan tinggi besar.

Disela- sela ceramah kuliah yang dilontarkan dosen, satu kejadian yang tak pernah terbayangkan sebelumnya terjadi. Entah bagaimana bisa prajurit- prajurit kerajaan City mengetahui tempat pelarian Putri Sakura.

“Permisi Pak, kami hanya ingin menjemput Putri Raja dari Istana City,” semua mata terbelalak, memandang kearah Sakura, tak percaya jika gadis yang baru saja mereka kenal adalah Putri semata wayang Raja kerajaan City. Sakura menunduk terdiam.

“Ayo Putri, kita pulang. Ratu sangat mengkhawatirkanmu,” Dayang Avilia dengan raut takutnya membujuk Sakura. Jika sudah seperti ini ia ciut, ia menuruti petuahnya. Yang bergejolak dalam pikirannya saat ini hanyalah satu hal, bagaimana nanti ia akan menjawab introgasi Raja. Pastilah di Istana bahkan di negeranya ramai akan berita jika Putri Sakura hilang.

“Bagaimana bisa kamu bisa pergi dari Istana Putri?”
“Maafkan Putri Raja, Putri hanya ingin suasana baru. Putri kesepian, Putri ingin merasakan apa yang seharusnya dirasakan oleh remaja seumuran Putri,”

“Putri, kamu adalah calon pengganti Raja. Jika kamu saja tak bisa menguasai egomu sendiri, bagaimana bisa kamu nanti mengurusi negaramu?” Sakura terdiam, tak berkutik sedikitpun, tak berani menyanggah kalimat Raja.
“Sekali lagi maafkan Putri Raja,”

“Baik, untuk kali ini Raja memaafkanmu. Janganlah Kau ulangi lagi kesalahanmu ini Putri. Sekarang kembalilah ke kamarmu, masih banyak buku politik kerajaan yang harus kamu tuntaskan,”
Sakura membalikkan badan, menyeka air matanya yang nyaris keluar bercucuran.

Sepi, sampai kapan rasa kesepian terus merangkulku? Apakah keinginanku untuk berada di keramaian bak pungguk merindukan bulan? Bukanlah bebas tanpa batas yang aku inginkan, bebas yang aku inginkan hanyalah bebas berkelana dan bebas bersahabat untuk mengusir kesepian jiwaku tanpa mengesampingkan peraturan- peraturan istana. Tuhan, apakah Engkau memang menakdirkanku hidup dalam kesepian yang yang berujung batasnya?

Oleh : Relung Fajar Sukmawati (Aktivis IMM Reformer UIN Malang)

Ayo, Sebarkan Kebaikan..!

Related posts

Leave a Comment